Secara umum iklim
sebagai hasil interaksi proses-proses fisik dan kimiafisik parameternya,
seperti suhu, kelembaban, angin, dan pola curah hujan yang terjadi pada suatu tempat di muka bumi. Untuk mengetahui kondisi
iklim suatu tempat, menurut ukuran internasional diperlukan nilai rata-rata
parameternya selama kurang lebih 30 tahun.
Iklim muncul akibat dari pemerataan energi bumi yang tidak tetap dengan adanya perputaran/revolusi bumi mengelilingi matahari selama kurang lebih 365 hari serta rotasi bumi selama 24 jam. Hal tersebut menyebabkan radiasi matahari yang diterima berubah tergantung lokasi dan posisi geografi suatu daerah. Daerah yang berada di posisi sekitar 23,5 Lintang Utara – 23,5 Lintang Selatan, merupakan daerah tropis yang konsentrasi energi suryanya surplus dari radiasi matahari yang diterima setiap tahunnya.
Iklim muncul akibat dari pemerataan energi bumi yang tidak tetap dengan adanya perputaran/revolusi bumi mengelilingi matahari selama kurang lebih 365 hari serta rotasi bumi selama 24 jam. Hal tersebut menyebabkan radiasi matahari yang diterima berubah tergantung lokasi dan posisi geografi suatu daerah. Daerah yang berada di posisi sekitar 23,5 Lintang Utara – 23,5 Lintang Selatan, merupakan daerah tropis yang konsentrasi energi suryanya surplus dari radiasi matahari yang diterima setiap tahunnya.
Sebagaimana dilaporkan Intergovernmental
Panel on Climate Change (IPCC) atau Panel yang berisi para ahli dunia,
menyatakan iklim bumi telah berubah yang disampaikan secara resmi pada KTT bumi
di tahun 1992 di Rio de Janeiro Brasil, hingga diadopsinya Konvensi Perubahan
Iklim Bangsa-bangsa (United Nations
Framework Convention on Climate Change-UNFCCC), dan Indonesia telah
meratifikasi konvensi tersebut melalui Undang-undan Nomer 6 Tahun 1994.
Pertanyaannya adalah kenapa terjadi perubahan iklim global?
Karena dampak pemanasan global. Bagaimana terjadinya pemanasan global sebab
adanya efek rumah kaca yang berlebihan (lebih dari kondisi normal) di atmosfer
bumi, sebagai akibat terganggunya komposisi gas-gas rumah kaca (GRK) utama
seperti CO2 (Karbon
dioksida),CH4(Metan) dan N2O (Nitrous Oksida), HFCs (Hydrofluorocarbons), PFCs (Perfluorocarbons) and SF6 (Sulphur hexafluoride) di atmosfer.
Darimanakah gas-gas
tersebut dapat dihasilkan? GRK dapat dihasilkan baik secara alamiah maupun dari
hasil kegiatan manusia. Namun sebagian besar yang menyebabkan terjadi perubahan
komposisi GRK di atmosfer adalah gas-gas buang yang teremisikan keangkasa
sebagai “hasil sampingan” dari aktifitas manusia untuk membangun dalam memenuhi
kebutuhan hidupnya selama ini. Dimulai sejak
manusia menemukan teknologi industri pada abad 18, banyak menggunakan
bahan bakar primer seperti minyak bumi, gas maupun batubara untuk menghasilkan
energi yang diperlukan. Energi dapat diperoleh, kalau minyak itu dibakar lebih
dahulu, dari proses pembakaran tersebut keluarlah gas-gas rumah kaca.
Aktifitas-aktifitas
yang menghasilkan GRK diantarnya dari kegiatan perindustrian, penyediaan
energi listrik, transportasi dan hal
lain yang bersifat membakar suatu bahan. Sedangkan dari
peristiwa secara alam juga menghasilkan/
mengeluarkan GRK seperti dari letusan gunung berapi, rawa-rawa, kebakaran
hutan, peternakan hingga kita bernafaspun mengeluarkan GRK. Selain itu aktifitas
manusia dalam alih guna lahan juga mengemisikan GRK.
Bagaimana GRK berperan
dalam efek rumah kaca dan merubah iklim bumi? Mekanismenya kurang lebih dapat
dijelaskan sebagai berikut: "atmosfer," adalah lapisan dari berbagai
macam gas yang menyelimuti bumi, dan merupakan mesin dari sistem iklim secara
fisik. Ketika
pancaran/radiasi dari matahari yang berupa sinar tampak atau gelombang pendek
memasuki atmosfer, beberapa bagian dari sinar tersebut direfleksikan atau
dipantulkan kembali oleh awan-awan dan debu-debu yang terdapat di angkasa,
sebagian lainnya diteruskan ke arah permukaan daratan. Dari radiasi yang
langsung menuju ke permukaan daratan sebagian diserap oleh bumi, tetapi bagian
lainnya “dipantulkan” kembali ke angkasa oleh es, salju, air, dan
permukaan-permukaan reflektif bumi lainnya. Proses pancaran sinar matahari dari
angkasa menembus atmosfer sampai menuju
permukaan bumi hingga dapat kita rasakan suhu bumi menjadi hangat disebut efek rumah kaca (ERK) Tanpa ada efek rumah kaca di sistem ikim bumi, maka bumi
menjadi tidak layak dihuni karena suhu bumi terlalu rendah (minus).
Istilah efek rumah kaca, diambil dari cara tanam yang digunakan
para petani di daerah iklim sedang (negara yang memiliki empat musim). Para petani biasa menanam sayuran atau bunga di dalam rumah kaca untuk menjaga suhu ruangan
tetap hangat. Kenapa menggunakan kaca/bahan yang bening? Karena sifat materinya
yang dapat tertembus sinar matahari. Dari sinar yang masuk tersebut, akan
dipantulkan kembali oleh benda/permukaan dalam rumah kaca, ketika dipantulkan
sinar itu berubah menjadi energi panas yang berupa sinar inframerah,
selanjutnya energi panas tersebut
terperangkap dalam rumah kaca. Demikian pula halnya salah satu fungsi atmosfer
bumi kita seperti rumak kaca tersebut.
Dari penjelasan di atas dapat kita mengerti bagaimana mekanisme
terjadinya efek rumah kaca di bumi. Lalu bagaimana
keterkaitan antara efek rumah kaca, pemanasan global dan perubahan iklim?
Secara sederhana dijelaskan sebagai berikut sinar matahari yang tidak terserap
permukaan bumi akan dipantulkan kembali dari permukaan bumi ke angkasa.
Sebagaimana telah dijelaskan di atas, sinar tampak adalah gelombang pendek,
setelah dipantulkan kembali berubah menjadi gelombang panjang yang berupa
energi panas (sinar inframerah), yang
kita rasakan. Namun sebagian dari energi panas tersebut tidak dapat menembus
kembali atau lolos keluar ke angkasa, karena lapisan gas-gas atmosfer sudah
terganggu komposisinya (komposisinya berlebihan). Akibatnya energi panas yang
seharusnya lepas keangkasa (stratosfer) menjadi terpancar kembali ke permukaan
bumi (troposfer) atau adanya energi
panas tambahan kembali lagi ke bumi dalam kurun waktu yang cukup lama, sehingga lebih dari dari kondisi
normal, inilah efek rumah kaca berlebihan karena komposisi lapisan gas rumah
kaca di atmosfer terganggu, akibatnya memicu
naiknya suhu rata-rata di permukaan bumi maka terjadilah pemanasan global.
Karena suhu adalah salah satu
parameter dari iklim dengan begitu berpengaruh pada iklim bumi, terjadilah perubahan iklim secara global.
share with: Haneda, 2008
Tidak ada komentar:
Posting Komentar